Augmented Reality (5–Tutorial)
Artikel ini merupakan lanjutan dari “Augmented Reality (4–AR dengan Adobe Flash Platform)”.
Yang dibutuhkan
Apa yang kita butuhkan untuk mengikuti tutorial ini? Yang pasti, kita butuh library AR dan library 3D, selain itu kita juga butuh IDE dan Compiler.Disini saya menggunakan FLARToolKit untuk AR librarynya, dan Papervision sebagai 3D librarynya. Untuk IDE dan Compiler, saya menggunakan Flash Develop dan Adobe Flex SDK.
Download Library
- Buat sembarang folder di Komputer anda, lalu rename dengan nama “flartoolkit” (Misal di C:\flartoolkit).
- Setelah itu, dengan menggunakan SVN, download library FLARToolKit ke dalam folder tadi. URL FLARToolKit adalah http://www.libspark.org/svn/as3/FLARToolKit/trunk/
- Apabila anda belum pernah menggunakan SVN. Download Tortoise SVN (http://tortoisesvn.net/downloads.html) lalu install. Setelah Tortoise SVN terinstal dan bekerja dengan baik pada PC anda, klik kanan di folder “flartoolkit” yang baru anda buat tadi lalu pilih SVN Checkout… kemudian isi seperti gambar di bawah ini.
-

- Kemudian tekan OK.
- Setelah berhasil mendownload FLARToolKit, buat folder baru lagi dan rename dengan nama “papervision”, lalu download library Papervision3D pada URL http://papervision3d.googlecode.com/svn/trunk/ seperti pada langkah di atas.
Download IDE (+ Compiler)
Apabila Flash Develop belum terinstal di PC anda, anda dapat membaca cara menginstall Flash Develop dan menyetting Flex SDK nya pada URL berikut http://www.flashdevelop.org/wikidocs/index.php?title=Installation.
Tutorial
Well.. tutorial yang paling baik adalah tutorial yang bersumber dari si creatornya langsung
… alias tutorial yang paling baik adalah example yang telah disediakan pada library FLARToolKit yang baru kita download tadi
.
Mari kita simak
- Buka folder flartoolkit yang telah anda buat tadi

- Di dalam folder flartoolkit, telah disediakan satu folder khusus yang berisi contoh-contoh, yaitu folder “examples”. Buka folder tersebut, didalamnya anda dapat melihat berbagai contoh cara menggunakan FLARToolkit dengan PV3D, contoh FLARToolkit dengan Away3D, cara mengimpor object Collada ke FLARToolkit, atau bahkan contoh untuk multimarker, dan sebagainya.

- Yuk, kita coba contoh yang paling sederhana.
- Jalankan FlashDevelop yang telah anda install tadi.

- Di menubar, pilih “Tools > Global Classpaths” atau [CTRL + F9]

- Click “Add Classpath…”, dan masukkan library FLARToolKit dan PV3D yang telah anda download tadi seperti di bawah ini (sesuaikan dengan folder anda). O ya, di dalam folder “flartoolkit\libs” juga ada library tambahan, yaitu “NyaARToolKitAS3”, masukkan itu juga ke dalam Global Classpaths.

- Click OK, lalu restart FlashDevelop. Sekarang FlashDevelop anda telah siap untuk digunakan membuat aplikasi berbasis PV3D dan FLARToolKit
. - Di Menubar pilih “Project > New Project”. Pilih “AS3 Project” lalu beri Name dan Location. Contohnya, Name “tutorial”, Location “C:\tutorial”. Setelah itu click “OK”.

- Silahkan periksa folder “C:\tutorial” anda. Di situ anda akan menemukan 3 buah folder dan 1 file Tutorial.as3proj. selanjutnya kita akan meng-copy contoh-contoh dari library ke folder-folder ini.
- Buka “C:\tutorial\src”. lalu delete file “Main.as”, kita akan menggantinya dengan contoh yang telah disediakan.
- Buat folder “C:\tutorial\src\example”.
- Rename folder “C:\tutorial\libs\” menjadi “C:\tutorial\resource”. Lalu buat folder “C:\tutorial\resource\Data”.
- Copy file-file berikut dari folder example yang telah disediakan, yaitu ARAppBase.as, FLARToolKitExample_PV3D.as, dan PV3DARApp.as. lalu paste ke “C:\tutorial\src\example”

- Buka folder flartoolkit anda “flartoolkit\resource\Data”, lalu copy juga file-file berikut, yaitu camera_para.dat dan flarlogo.pat. lalu paste ke “C:\tutorial\resources\Data”.

- Seharusnya saat ini di “C:\tutorial\” struktur foldernya kira-kira seperti dibawah ini. Di “resources\data” kita punya 2 file, yaitu camera_para.dat dan flarlogo.pat, dan di “src\examples” kita punya 3 file, yaitu ARAppBase.as, FLARToolKitExample_PV3D.as, dan PV3DARApp.as.

- Bila sudah, coba buka kembali FlashDevelop, lalu pada jendela project, click kanan pada file FLARToolKitExample_PV3D.as kemudian pilih “Always Compile”.

- Setelah itu jalankan aplikasi anda. Pada menu bar pilih “Project > Test Movie” atau [F5]. Bila semuanya berjalan lancar, seharusnya flash viewer akan terbuka, dan meminta izin untuk mengakses kamera.

- Selamat, anda baru saja membuat aplikasi AR pertama anda (walaupun hanya mengikuti example saja :p). Lalu di mana markernya? Buka file “flartoolkit/resources/Data/flarlogo-marker.pdf”, lalu print. Lalu test di aplikasi anda. Apabila semua berjalan lancar, seharusnya tampilannya kira-kira seperti dibawah ini.
Pembahasan
Hasil final di atas mungkin memang sangat sederhana, ya itu memang karena kita memulainya dari contoh yang paling sederhana, yaitu AR dengan menggunakan object primitive Plane dan Cube dari PV3D.
- Kembali ke FlashDevelop, buka file FLARToolKitExample_PV3D.as.
- Baris 27
- package examples
- Baris di atas menunjukkan bahwa file kita terletak pada folder (package) “C:\tutorials\src\examples”. Apabila anda tidak ingin file-file anda berada di dalam folder “\examples”, maka anda harus menghapus kata “examples” dari baris “package examples”.
- Baris 29 – 37.
- Kita mengimpor library-library yang kita butuhkan dari flash dan PV3D.
- Baris 39.
- import examples.PV3DARApp;
- Kita mengimpor file lain dari folder examples. Yaitu PV3DARApp, itu sebabnya mengapa tadi kita perlu mengcopy file PV3DARApp.as juga. Library-library yang kita butuhkan dari FLARToolKit di impor pada file PV3DARApp.as tadi.
- Baris 55.
- init(‘../resources/Data/camera_para.dat’, ‘../resources/Data/flarlogo.pat’);
- Inisialisasi camera dan marker yang akan kita gunakan. Anda dapat mengganti-ganti marker anda dengan cara mengubah “flarlogo.pat” dengan file *.pat yang lain.
- Untuk membuat file marker, simak link berikut ini :
- http://flash.tarotaro.org/blog/2008/12/14/artoolkit-marker-generator-online-released/
- Baris 61-64.
- Baris 68-71
- Mengatur Pencahayaan
- Baris 75-78
Anda dapat bereksperimen dengan membuat object2 lain dari PV3D, atau bahkan coba untuk mengimpor file collada. Coba juga contoh-contoh lain yang telah disediakan di library FLARToolKit.
Selamat Mencoba
Artikel ini merupakan pembahasan dari materi presentasi ‘Augmented Reality’ pada event Adobe Camp Indonesia 20 Januari 2011 kemarin.
Augmented Reality (4 – AR dengan Adobe Flash Platform)
Artikel ini merupakan lanjutan dari “Augmented Reality (3 – Object Acuan)”.
Tools untuk mengembangkan AR
AR (Augmented Reality) menjadi salah satu trend tekhnologi tahun 2010, dan diperkirakan trend ini tidak akan turun dalam waktu dekat. Ada beberapa hal yang menyebabkan AR menjadi begitu booming, salah satunya adalah karena semakin banyak dan mudahnya mendapatkan tools-tools yang diperlukan untuk mengembangkan AR.
Salah satu tools yang menyebabkan AR begitu booming saat ini adalah FLARToolkit. FLARToolKit adalah library untuk membangun aplikasi AR pada Adobe Flash Platform. Library ini free dan open source, siapapun boleh menggunakannya secara gratis untuk kepentingan non-komersil. Hal inilah yang akhirnya menyebabkan banyak orang menggunakannya untuk membuat berbagai aplikasi AR yang tersebar di internet saat ini.
Pada beberapa artikel sebelumnya saya pernah membahas bahwa AR dapat berjalan pada beberapa media (handphone, desktop, dsb), selain itu juga AR memiliki beberapa object yang bisa menjadi acuannya (marker, texture, GPS, dsb). FLARToolKit adalah library yang dapat kita gunakan untuk membuat AR pada desktop dengan object acuan marker.
Begitu mendengar kata “marker”, mungkin anda akan mengeluh …”yaah, pake marker. Nggak canggih”, “kuno !”, “nggak cantik dong”, dsb. Nah, apabila anda termasuk orang yang mengeluh (padahal belum pernah buat :p), mungkin anda akan berpikir ulang setelah melihat beberapa contoh video berikut :
Mengapa FLARToolKit dapat begitu populer?
FLARToolkit adalah salah satu tool yang paling bertanggung jawab membuat AR menjadi trend saat ini (2010). FLARToolKit sendiri menjadi populer bukan hanya karena sifatnya yang free dan open source, tetapi karena Library ini berjalan pada Adobe Flash Platform. Berikut ini beberapa alasan mengapa FLARToolKit bisa begitu populer :
- FLARToolkit menggunakan Flash Player.
- Flash Player telah terinstal di lebih dari 99% browser yang terhubung ke Internet (http://www.adobe.com/products/player_census/flashplayer)
- Flash Player “Pre-Installed” pada browser tertentu
- Survey yg dilakukan oleh salah satu agency besar, Zugara :
“Would you view an online Augmented Reality
experience if it required you to download and install an Internet Browser plug-in other than Flash?”
Apabila anda membuat aplikasi AR dengan menggunakan plugin lain selain Flash, hanya sekitar 35% user saja yang bersedia menginstall aplikasi yang dibutuhkan. Artinya, anda kehilangan sekitar 65% pasar anda.
Pada artikel berikutnya, kita akan coba membuat aplikasi AR pertama kita dengan menggunakan FLARToolKit.
Artikel ini merupakan pembahasan dari materi presentasi ‘Augmented Reality’ pada event Adobe Camp Indonesia 20 Januari 2011 kemarin.
Pembahasan dilanjutkan lebih jauh ke “Augmented Reality (5 – Tutorial)”.
Augmented Reality (3 – Object Acuan)
Artikel ini merupakan lanjutan dari “Augmented Reality (2 – Perkembangan)”.
Object acuan AR
Pada umumnya, AR menambahkan object digital pada realita dengan mengacu pada object-object tertentu yang ada di dunia nyata, misalnya dengan menggunakan marker, marker-texture (surface), face detection/recognition, motion detection, dan GPS & Digital Compass.
AR dengan marker
AR dengan texture/surface
AR dengan pendeteksian wajah
AR dengan pedeteksian gerakan
AR dengan GPS & Digital Compass
Marker.
Kotak dengan border sangat tebal, umumnya tidak berwarna (hitam – putih). Merupakan object acuan yang paling mudah dikenali secara visual.
Marker-Texture atau surface.
Mengenali pola-pola tertentu pada suatu permukaan (surface). Misal, mengenali pola-pola tertentu pada photo, peta, brosur, logo, dan sebagainya.
Secara visual, object acuan ini lebih menarik dibanding marker sebab pola-pola yang dapat dikenalinya tidak hanya kotak hitam putih (yang mungkin sangat membosankan). Namun object acuan ini juga jauh lebih sulit dikenali secara visual.
Pendeteksian wajah.
Pada umumnya, semua orang normal memiliki pola wajah yang sama. Tiap orang memiliki 2 mata. Diantara kedua mata-nya, agak kebawah sedikit ada hidung, dan di bawahnya lagi ada mulut. Di atas tiap mata umumnya ada alis dan lekukan tulang pelipis. Ciri-ciri ini dimiliki oleh setiap manusia normal. Dan ciri-ciri inilah yang akan berusaha dikenali oleh aplikasi.
Pendeteksian gerakan.
Gerakan dideteksi dengan cara membandingkan suatu frame dengan frame sebelumnya. Apabila pada kedua frame tersebut ada perbedaan gambar, maka diasumsikan ada gerakan pada bagian yang berbeda diantara kedua frame tersebut.
GPS & Digital Compass
Pada object-object acuan sebelumnya, kamera dibutuhkan untuk mencari object2 acuan yang harus dikenali. Namun pada object acuan GPS, object acuan dideteksi oleh perangkat GPS, bukan oleh perangkat kamera. Perangkat kamera hanya dibutuhkan untuk mengambil visual realita-nya saja, dan bukan untuk mengenali object acuan.
Artikel ini merupakan pembahasan dari materi presentasi ‘Augmented Reality’ pada event Adobe Camp Indonesia 20 Januari 2011 kemarin.
Pembahasan dilanjutkan lebih jauh ke “Augmented Reality (4 – Membuat AR dengan Adobe Flash Platform)”.
Augmented Reality (2 – Perkembangan)
Artikel ini merupakan lanjutan dari “Augmented Reality (1 – Perkenalan)”.
Media untuk melihat AR
Saat ini, AR tidak hanya dapat dilihat melalui jendela pilot pesawat tempur saja, tetapi juga melalui layar televisi atau computer kita, handphone, goggles, dan sebagainya. Bahkan saat ini beredar issue pula bahwa militer US sedang mengembangkan contact lens yang dapat menampilkan AR (sangat mengerikan ya?) .
Intinya, kini AR dapat di akses melalui berbagai device yang dilengkapi dgn kamera, layar, dan perangkat pengolahan yang cukup baik. Begini kira-kira gambarannya :
Pada gambar di atas. Marker mewakili realita yang dilihat oleh camera, kemudian camera mengirimkan data realita yang dilihatnya ke perangkat pemrosesan (CPU). CPU berusaha mengenali pola-pola tertentu berdasarkan object acuan yang dia miliki (akan kita bahas nanti). Setelah itu, CPU akan menambahkan data2 digital (text, image, 3d, video, dsb) ke atas realita tadi. Dan hasil akhirnya ditampilkan di layar sebagai realita tertambah.
Cara kerja yang sama juga berlaku untuk perangkat handphone dan goggles (… dan mungkin contact lens juga nantinya).
AR pada PC
AR pada Handphone
AR pada Goggles
AR pada contact lens ??
Berikut ini adalah beberapa contoh aplikasi AR yang dibuat dengan menggunakan Adobe Flash Platform dan dapat dinikmati melalui layar browser anda.
GE SmartGrid – See How It Works
Click di sini untuk mencobanya
Priority Mail – Virtual Box Simulator
Click di sini untuk mencobanya )
AR sebagai cabang dari Mixed Reality ?
Hal lain yang perlu kita ketahui dari AR adalah, AR sebenarnya merupakan cabang dari Mixed Reality (Kenyataan campuran). Mixed Reality itu membentang dari Reality ke Virtuality, dan apa-apa yang berada di antara keduanya merupakan gabungan antara keduanya.
Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah bagannya.
Augmented Reality adalah realita yang ditambahkan object2 digital, sehingga porsi realita-nya lebih banyak terlihat di layar. Contohnya adalah Eyepet dari Sony Playstation.
Augmented Virtuality adalah kebalikan dari Augmented Reality. AV (Augmented Virtuality) merupakan dunia digital yang ditambahkan object2 nyata ke dalamnya, sehingga porsi digital-nya lebih banyak terlihat di layar. Contohnya adalah KungfuLive, masih dari Sony Playstation.
Artikel ini merupakan pembahasan dari materi presentasi ‘Augmented Reality’ pada event Adobe Camp Indonesia 20 Januari 2011 kemarin.
Pembahasan dilanjutkan lebih jauh ke “Augmented Reality (3 – Object Acuan)”.
Augmented Reality (1 – Pengenalan)
Apa itu Augmented Reality ?
Augmented Reality… apa sih Augmented Reality itu? Berdasarkan informasi yang saya dapat dari Wikipedia, Ronald Azuma (1997) mendefinisikan Augmented Reality sebagai berikut :
Gabungan antara dunia nyata dan dunia maya, yang bersifat interaktif dan real-time, Serta berjalan pada lingkungan tiga dimensi.
Itu definisi yang sudah cukup mudah dimengerti. Namun secara pribadi saya lebih suka menggunakan arti harfiahnya dibanding definisinya. Secara harfiah, apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, “Augmented Reality” terdiri dari dua kata, yaitu “Augmented”, dan “Reality”.
Augmented :
Penambahan, atau Peningkatan
Reality :
Realitas, atau Kenyataan
Augmented + Reality :
Realita yang ditambahkan, atau Realita Tertambah
Sudah dapat bayangan kira-kira seperi apa sih AR (Augmented Reality) itu ? Untuk lebih jelasnya, kita dapat menggunakan ilustrasi sebagai berikut (lagipula, satu gambar lebih berarti dibanding 1000 kata bukan ?
).
Mungkin salah satu bentuk paling awal dari AR adalah AR pada jendela kokpit pesawat tempur. Gambar 1 adalah realita yang dilihat oleh seorang pilot pesawat tempur melalui jendela kokpitnya. Dan gambar 2 adalah realita tertambah-nya.
Seorang pilot pesawat tempur harus selalu waspada dengan lingkungan sekitarnya, namun di sisi lain banyak informasi penting lainnya yang perlu diketahui oleh sang pilot, misal ketinggian, kemiringan, arah pesawat, bahan bakar, status persenjataan, posisi lawan, dsb.
Bayangkan betapa repotnya sang pilot apabila dia harus bolak-balik melihat dashboard, lalu kembali lagi melihat jendela berulang-ulang, terutama dalam kondisi perang. Hal seperti itu akan membuyarkan konsentrasi pilot. Oleh karena itu, para engineer berusaha keras bagaimana caranya agar pilot tetap dapat terus mengawasi keadaan sekitarnya, namun disaat yang bersamaan tetap dapat mendapatkan informasi-informasi yang pilot butuhkan. Dan dari situ kemudian muncullah jawabannya, yaitu… AR (Augmented Reality).
Artikel ini merupakan pembahasan dari materi presentasi ‘Augmented Reality’ pada event Adobe Camp Indonesia 20 Januari 2011 kemarin.
Pembahasan dilanjutkan lebih jauh ke “Augmented Reality (2 – Perkembangan)”.
Adobe Camp Indonesia 2011
Hi, I become one of the eight speaker for the last Adobe Camp Indonesia (Jan 20, 2011). I talk about Augmented Reality on Adobe Platform. Below is the slide that I presented on the seminar.
You can see documentation photos on this link.
Hi! I’m Rizal Akbar, & this is my resume :)
As an addition to traditional resume that I already attached on Rizalakbar.com, I also make a visual resume that you can access on Slideshare via this link.
You can view my traditional *.docs resume via this link.
First Post
Just installed WordPress.
Yaay.. Rizalakbar.com now have its own blog.
You can access it on http://blog.rizalakbar.com.
















